07 February, 2010

bangkok


Satu seri dengan perjalanan Krabi, dan berlanjut hingga GeorgeTown :D-


Setelah berangkat dari Suratthani pukul 9pm, Kami berempat tidur di kereta api- sleeper 2nd class. 4 tiket yang tersisa berhasil kami dapatkan : 2 bilik tidur-atas dan 2 bilik tidur-bawah. Awalnya gw pikir fasilitas bilik tidurnya sama, Tapi ternyata tidak. Bilik tidur-atas tidak mendapatkan pemandangan ke luar. Langit2nya pun pendek, *terang aja harganya berbeda* Di bilik bawah ada jendela. dan spacenya lebih lega. karena sebagian kita mendapat lower-sleeper, jadi masih bisa nyobain.. mm.. ternyata jauh lebih nyaman, meski beda harga dengan upper-sleeper tidak signifikan! *hehe, coba kalo kereta mudik lebaran ada kelas sleeper juga*

Landscape-line yang tadinya didominasi tebing2 alam selama di Krabi-Suratthani berangsur berubah dari perkebunan>perumahan>perkantoran>dan ga nyadar dah nyampe aja di pusat kota Bangkok pada pagi harinya [8am, jadi total perjalanan sekitar 11jam]. Suasana hiruk pikuk mirip Jakarta, taxi dimana-mana, warna2nya pun nyolok mata. Ada pink, kuning, ijo, ungu terang, dan cyan! Penjual makanan juga keluar masuk kereta mirip di stasiun Jogja, *hehe jadi inget teriakan2 ‘popmi, kopi, mijon.. kolakolane mas’, tapi di sini ntah2, udah bahasanya ga ngerti, sahut2an lagi*

Sebelum keluar Hua Lamphong, sempet ketemu petugas information centre yang mirip 'Mulan Jameela' yang kemudian kami ketahui bernama Aminah, beliau membantu menulis alamat hotel yang kami dapat dari internet menjadi karakter2 Thai yang mirip huruf Jawa Kuno, buat ditunjukin ke supir Taxi.. *Arigatou-ne Aminah-San..* berdasar informasi Aminah ini, banyak penghuni Bangkok yang tidak bisa membaca huruf Roman [huruf latin] mereka hanya bisa berbincang dan membaca huruf Thai.
Gaswat! Jadi pengen 'hire' Aminah buat nemenin, kan kita takut kesasar.. *hehe..ngarep*

Perjalanan pertama setelah nyampe hotel adalah mencoba sky-bus, *lebih mirip MRT kalo di Singapur, tapi platformnya diangkat mirip monorail di KL*. Dan kita pun menuju ChatuChak Weekend Market..

Disana berkumpul PKL dari segala penjuru Bangkok. Menurut info tourism map, konon diperlukan waktu 2 bulan penuh kalo kita mau ngiterin semua lapak pedagang dengan berjalan kaki. Pedagang tidak selalu menempati lokasi dagangan yang sama. Yang dijual sangat beragam, dari yang kualitas abal-abal sampe yang koleksi ala butik. Harganya murah. Buat perbandingan kaos2 sekualitas Dagad* [dari segi material dan desain] dijual rata2 100Baht (Rp30rb-an), baju2 yang desainnya lumayan update juga sekitar 150an Baht (45rb), kalo beli banyak minimum 3 langsung harga diturunkan lagi [wholesale price] tanpa kita perlu menawar. Melihat situasi ini, langsung semua pada kalap belanja. Yang tua, yang muda, yang laki, yang perempuan, yang lokal, yang bule, semua nenteng2 kresek. hehe.. [ati2 ya kalo datang ke sini, sediakan waktu, uang, dan tenaga yang memadai.., juga jangan lupa sebelumnya menyisakan space di koper dan persiapkan sehingga over-luggage di bandara]
Di samping ChatuChak ini, ada taman kota yang luas.. nampak sebagai ruang publik yang berhasil. Di dalamnya ada pohon, tempat duduk, instalasi seni, dan kolam. Di sekitarnya ada station sky bus, pool taxi, pool bus, juga Station subway.. pas Sabtu Minggu rame banget! orang datang dan pergi dari berbagai arah..
Namun ada yang sama dengan taman2 di Indonesia, tamannya diPAGERin! *due to violences and chaos that happened there lately, maybe..* tapi titik keluar ke simpul transport dibuka sehingga sedikit menghalangi permeabilitas massa,
Ga kerasa sekitar 7jam kita muter2 di pasar akhir pekan ini, dilanjutkan menghabiskan waktu bersama penduduk Bangkok dan turis lainnya di taman Chatuchak untuk sejam kemudian..

Esok paginya kita menuju Grand Palace aka. istana Raja ภูมิพลอดุลยเดช ป [Bhumibol Adulyadej]. Harga masuknya naik jadi 350Baht [Rp.100ribu-an, info sebelum year-end masih 300Baht :(]. Agak mahal, tapi ta apalah.. may be once in the life time ngeliatin ‘keseriusan’ Kerajaan membangun istana dan kuil Budha dari emas 24 karat. Pas udah masuk ternyata ramai dan sangat panas. Iseng megang2 bangunan atau detail dari emas, ternyata adem lho.. [mungkin bisa jadi solusi buat anda yang tinggal di Jakarta, silahkan mencoba membangun dinding dan atap dari emas, wkwk..]
Atmosfer istana ini tidak semistis Istana Jogja. Mungkin karena terlalu ramai pengunjung.. Yang gw heran, Jarak bangunan2 di dalamnya sangat rapat, seperti sudah tidak ada lahan lagi saja. Padahal setiap bangunan dibuat dengan detail yang sangat menarik, sangat presisi, dengan elemen2 kecil yang indah.
Kalo gw disuruh mendesain ulang, Gw akan tarik sedikit lebih jauh jarak antar bangunan supaya pengunjung bisa menikmati setiap elemen dan detail dengan lebih baik. Problem lainnya yaitu panas matahari yang menyengat. Kalo lagi-lagi gw disuruh desain ulang, gw akan desain selasar2 yang adem, nanem pepohonan, dan meletakkan tempat duduk yang nyaman di sepanjang lintasan pengunjung..
Secara keseluruhan puas melihat ‘kegilaan’ konstruksi Grand Palace ini. Proporsi bentuk bangunannya sangat unik [dg pucuk2nya yang berangsur meruncing ke atas], eksekusi material [which is gold] yang sangat detail, juga olahan warna2nya meski meriah, nampak memiliki keteraturan.

Sepulang dari Grand Palace, kita ditodong oleh seseorang di luar pintu istana. Tadinya kita mau ke Wat Po, tempat Budha raksasa leyehan. Tapi orang ini memberitahu kalo di Wat Po sedang ada upacara dan akan berakhir pukul 4 petang [Waktu itu masih jam 12an siang, terik matahari naujubile] Dia menawarkan jasa Tuk-Tuk, hanya 20 Baht saja (Rp6ribu) dia akan mengantarkan ke Standing Budha, Sitting Budha, dan Golden Mountain diakhiri dengan kunjungan di Sleeping Budha *gw heran, ada yang bisa jelasin ga, kenapa Budha dibuat dg berbagai posisi?* tapi dia bilang di sela-sela kunjungan ini kita akan diajak ke art galleries sebanyak 6 tempat. Demi melihat atap TukTuk yang teduh dan kursinya yang kosong. Langsung saja setuju. *keputusan tanpa pertimbangan yang matang*
Perjalanan dengan Tuk-Tuk ternyata memakan waktu berjam2. Gw jadi mikir bagaimana bisa hanya dengan 20Baht dah dianter muter2 kota?. Kita ngelewatin perkantoran UN, kantor2 pemerintahan, kampus2 dan jalan2 utama Bangkok.. di sepanjang perjalanan, baru tau kalau perjalanan itu ternyata disponsori Art Galleries yang emang konon dah ga laku lagi. Sang supir yang masih berusia 23, Tik, menceritakan, dia dapat subsidi dari setiap toko yang kita datangi. [d*mn! tertipu..]
Setiap Art Gallery yang kita kunjungi memiliki ruang display yang luas dan kosong pengunjung. Penjaga2 dengan gigih menawarkan barang dagangannya yang harganya ga kira2. Ada tukang jahit yang nawarin model celana ala brand kondang dengan harga paling murah 2000Baht (Rp600rb-an), sampai galeri perhiasan yang menawarkan cincin atau kalung dengan mata ruby-thai paling murah 4000Baht (Rp.1,2jt-an), *noway-hosay. Jangan2 informasi upacara di Wat Po tadi berita bohong, Untung gw masih rela, gara2 disupirin keliling Bangkok dg murah-meriah..*

Selepas perjalanan TukTuk yang sukar dilupakan ini, Kami mencoba water taxi ke arah Pratunam [Shopping District]. Biaya perjalanan dengan perahu ini murah sekali. Kami hanya dikenakan ongkos 10Baht (Rp3rb) saja, menyusuri sungai2 Bangkok yang disampingnya berderet hunian2 publik setinggi 6-7 lantai, Nyupirnya kenceng lagi. Kenek yang nagih duit penumpang berdiri di samping boat, sambil akrobatik ngatur atapnya [naik turun saat lewat bawah jembatan]. Pembatas tepi terbuat dari terpal, bisa dikendalikan secara manual oleh penumpang dengan teknologi mekanika dan prinsip sambungan sendi yang sederhana.. *menarik! coba ya di Jakarta sungainya dibersihin trus ada perahu2 seperti ini, pasti sangat membantu transportasi dan pariwisata kota*
Kami mencoba masuk di satu mall namanya Platinum Mall, [ala2 Mangga Dua], barang2 dijual dengan harga super miring. Apalagi kalo kita beli dengan pembelian minimum 3, harganya turun lagi. Desain2 kaos yang mirip Giord*no dijual dengan 100Baht saja (Rp30rb), baju2 kerja mirip G200* seharga 200Baht (Rp60rb), warna dan modelnya okelah, hanya mutu materialnya kurang sedikit. Tapi buat barang murah dengan desain yang bagus, tetep banyak juga pengunjung yang memborong.
Pengamatan secara sekilas dari segi model baju-kaos untuk kaum muda di Bangkok hampir lebih variatif dengan harga setengah di Bandung, makanya dulu waktu di Bandung gw liat banyak distro dan toko yang menjual barang2 Thailand.. [fyi. di Bandung harganya menjadi 3 kali lipat]

Sekitar tempat gw menginap [Rajavithi], terdapat Victory Monument. Di sini, ga pagi ga malam, banyak yang menjual barang2 murah. Mirip PKL2 di Jakarta. Yang menarik, space pedestrian tidak terganggu. Taman kota juga masih berfungsi tanpa invasi pedagang, aliran pedestrian tetap disediakan. Terdapat struktur jembatan beton yang dinaikkan lengkap dengan escalator dan hanging garden buat meeting point atau tempat ngobrol. Elevated pedestrian ini juga berfungsi menghubungkan jalur pejalan kaki antara sisi jalan2 yang sangat sibuk-padat [fyi. 1 jalur kendaraan terdiri dari 4-6 lajur di downtown]. Di atas struktur yang sama terdapat jalur sky-bus. Di bawah tanahnya dilengkapi dengan subway train. *wuih.. sibuknya*

Makanan hampir sama dengan Krabi, harus pinter2 nyari yang Halal. Kendala bahasa ternyata tidak separah yang diceritakan oleh Aminah, masih banyak orang yang pandai berbahasa Inggris meski buta huruf latin, Terutama di daerah2 wisata dan belanja.

Setelah 3 hari 2 malam, kami pun mengakhiri perjalanan di Bangkok. Dan melanjukan ke Butterworth [di Pulau Penang, Malaysia]. Sama seperti sebelumnya, kami menempuh perjalanan kereta api malam, yang pemberangkatannya dari Stasiun Hua Lamphong.
Tadinya berharap ketemu Aminah lagi. Apa daya ternyata siang itu, penjaga kios informasinya berbeda. Wajah penjaganya kali ini lebih mirip pemain lenong bocah. Dengan setengah ketus, ketika kami tanya lokasi train ke arah Butterworth, dia menjawab, ‘Have you got the tickets? Go to Paltform 5!’
Wuduu.. Siap Bu!..
*hari ini Aminah kemana ya? Wkwk..*

No comments:

Post a Comment